yang pertama dan perlu di wasapadai adalah Alignment harus Rata Kanan - kiri, paragraf baru harus menggunakan alenia, cover juga harus rapi, pertama gambar/logo sekolah/universitas agan, kemudian bawahnya adalah judul makalah, kalau yang lain saya rasa agan - agan sudah tau, saya kasih contohnya saja biar lebih jelas, berikut contohnys.
SISTEM OLAHRAGA ASIA
DAN
INDONESIA
![]() |
|||||
EKO BUDI SUSILO
NIM:
148010057
UNIERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
FAKULTAS FKIP PJKR
TAHUN 2014-2015
v DAFTAR ISI
I.
KATA
PENGANTAR
II.
BAB
I : Pendahulian
III.
BAB
II : Pembahasan
a. Definisi
Olahraga
b. Sistem
Olahraga Indonesia
c. Jentera
Lepas Perjalanan Olahraga Indonesia
d. Belajar
Dari Negeri Cina
e. Saudara
Tua Sepakbola Asia
IV.
BAB
III : Penutup
a.
Kesimpulan
b.
Penutup
c.
Daftar
Pustaka
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji
syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan
makalah yang berjudul “SISTEM OLAHRAGA ASIADANINDONESIA” dengan lancar.
Dalam pembuatan makalah ini,
penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Ibu dan Bapak dirumah
yang telah memberikan bantuan materil maupun doanya, sehingga pembuatan makalah
ini dapat terselesaikan. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu yang membantu pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini
bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis
menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu
penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah
kesempurnaan. Akhir kata penulis sampaikan terimakasih.
Semarang, Oktober 2014
Penyusun
EKO
BUDI SUSILO
BAB I
·
PENDAHULUAN
Secara umum pengertian
olahraga adalah sebagai salah satu aktivitas fisik maupun psikis seseorang yang
berguna untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan seseorang tersebut
itulah olahraga.
Olahraga diartikan dalam bahasa
inggris yaitu sport, makna sport sendiri menurut UNESCO adalah “Setiap
aktivitas tubuh berupa permainan yang berisikan perjuangan melawan unsur-unsur
alam, orang lain, ataupun diri kita sendiri”
BAB II
PEMBAHASAN
a.
Definisi Olahraga
Menurut Para Ahli
1.
Cholik
Mutohir
Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha
yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan
rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat berupa permainan,
petandingan, dan prestasi puncak dalam pembentukan manusia yang memiliki
Ideologi yang seutuhnya dan berkualitas berdasarkan Dasar Negara atau
Pancasila.
2.
Dewan Eropa
Olahraga
sebagai “aktivitas spontan, bebas dan
dilaksanakan dalam waktu luang”.
3.
Edward (1973)
Olahraga harus spontan dari konsep bermain, games, dan sport.
4. Wikipedia
Olahraga adalah aktivitas untuk melatih tubuh seseorang, tidak
hanya secara jasmani tetapi juga secara rohani (misalkan catur).
5.
Soekarno
Olahraga adalah alat untuk melaksanakan tiga tujuan revolusi
Indonesia, yaiut: Negara Kesatuan RI yang kuat, masyarakat adil dan makmur, dan
tata dunia baru. Dengan kata lain, Olahraga adalah alat untuk melaksanakan
ampera (amanat penderitaan rakyat).
6.
Suryanto
Rukmono, S. Si
Olahraga adalah suatu kegiatan untuk melatih tubuh kita agar badan
terasa sehat dan kuat, baik secara jasmani maupun rohani.
7. Seno Gumira Ajidarma
Olahraga adalah sarana kompetisi untuk menjadi nomer satu.
8. Jessica Dolland
Olahraga adalah pereda stress yang
sangat baik. Olahraga dapat mengalihkan pikiran dari kekhawatiran dengan cara
meredakan ketegangan otot tubuh.
9. Kathryn Marsden
Olahraga adalah pengusir stress terbaik yang pernah ditemukan.
10. Hans Tandra
Olahraga
adalah gerakan tubuh yang berirama dan teratur untuk memperbaiki dan
meningkatkan kebugaran.
b. Sistem
Olahraga Indonesia
Pakar olahraga Universitas
Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh mengemukakan bahwa sistem olahraga Indonesia
ke depan harus diubah. Hal ini berguna untuk mengangkat prestasi atlet tingkat
nasional dan internasional di masa mendatang.
"Ini penting dilakukan
untuk mengubah sistem olahraga Indonesia, di samping memperkuat koordinasi
antar instansi terkait agar saling mendukung bagi kemajuan," kata
Syaifuddin M.Pd.
Syaifuddin M.Pd. yang juga
Ketua Program Pasca Sarjana Pendidikan Olahraga Unsyiah itu menilai sistem
olahraga di Indonesia belum berjalan dengan baik, sehingga banyak program
pembinaan atlet kurang maksimal. Selain itu, program antara Mennegpora, KONI,
dan Departemen Pendidikan Nasional harus lebih sinkron, sehingga tidak ada
tumpang tindih dalam pembinaan.
Kerja sama tiga ini tersebut
harus lebih ditingkatkan, terutama dalam melaksanakan tugasnya masing-masing
demikian kemajuan program pembangunan di bidang olahraga.
Beliau juga mengatakan,
"Jika semua ini berjalan secara baik sesuai program yang sudah tersusun,
saya yakin prestasi olahraga di tanah air akan kembali meningkat,"
Beliau menilai, hubungan antar
Mennegpora dan KONI selama ini kurang harmoni sehingga pembinaan berbagai
cabang olahraga berjalan sendiri-sendiri sesuai program masing-masing.
Dia mengatakan, sumber daya
manusia (SDM) olahraga juga harus ditingkatkan khususnya pelatih dan guru
pendidikan jasmani (Penjas) di sekolah-sekolah."Hal ini sangat penting,
karena merupakan ujung tombak pembinaan bibit olahraga sejak dini," katanya.
Beliau sangat mendukung
pembinaan olahraga dengan menerapkan teknologi, guna meningkatkan prestasi
atlet seperti di negara-negara yang atletnya telah sukses ternyata pembinaannya
tidak terlepas dari teknologi.
c. Jentera Lepas
Perjalanan Olahraga Indonesia
Jentera
adalah roda pemintal benang. Jika dia lepas, benang pun akan beruraian kusut.
Demikian perjalanan dunia Olahraga prestasi negeri ini.Tetapi, dalam kekusutan
itu sebenarnya ada harga sebuah nilai kebangsaan. Sea Games ke 27 yang
rencananya akan digelar di Naypityaw Myanmar tinggal hitungan hari. Suka
ataupun tidak pesta olahraga antar bangsa Asia Tenggara tersebut bagi negeri
ini tetaplah merupakan titik kulminasi dan barometer olahraga prestasi. Ironis,
sementara beberapa negara pesaing pada region yang sama kini berani punya
obsesi menerbangkan atletnya ke level multi-event yang lebih tinggi.
Dikatakan
Ironis karena sesungguhnya pada suatu masa, bangsa ini pernah punya sebuah
obsesi tinggi yang mendahului negara – negara elit
Olahraga Asia lainnya.51 tahun lalu bangsa dengan populasi penduduk 250 juta
jiwa ini pernah mencanangkan untuk menjadi negara elit Olahraga dunia. Dibidik
dengan program yang berorientasi pada kebenaran sebuah proses, bertolak
belakang dengan kondisi terkini yang lebih menjagokan jalan pintas.Bertempat di
Bandung pada salah satu acara pengukuhan kontingen menjelang Asian Games
Jakarta 1962, Presiden Soekarno dalam amanatnya berkata “ Buat apa toh sebetulnya kita ikut – ikut Asian
Games?”. Yaitu untuk mengangkatnama Negara Kesatuan Republik Indonesia.Indonesiayang tadinya tertulis di dalam kitab suci
yang tertinggi di India, Jabadiuk-Swarna Dwipa (Jawa-Sumatera), kitab – kitab kuno seperti, “in de annalen van de geschiedenis
van Tiongkok, saudara – saudara, Silifitoze (Sriwijaya)”. Sudah tenggelam selama tiga setengah abad di mata dunia sepakbola.Akan tetapi, Indonesia sampai sekarang masih disebut oleh Negara-negara tetangga dengan nama Majapahit.
Presiden
Soekarno dalam amanatnya juga menegaskan Kemerdekaan Indonesia adalah
pintu gerbang untuk masuk ke gelanggang Internasional sebagai bangsa baru,
olahraga adalah alat untuk melaksanakan tiga tujuan revolusi Indonesia yaitu :
Negara
kesatuan Republik Indonesia yang kuat, masyarakat adil dan makmur, dan tata
dunia baru.Dengan demikian olahraga adalah alat untuk melaksanakan ampera
(amanat penderitaan rakyat).”
Engkau
adalah olahragawan.Itulah kau punya wilayah, tetapi dedication of life-mu harus
untuk Indonesia. Nah, inilah pesan yang aku berikan pada saat sekarang ini,
dengan harapan agar kita nanti, bukan saja di dalam pertandingan-pertandingan
Asian Games, tetapi seterusnya kita ini membangun suatu nation Indonesia,
nation building Indonesia, yang membuat bangsa Indonesia bangsa yang mulia,
bangsa yang tegak berdiri, bangsa yang bahagia,”(Presiden Soekarno saat memberikan amanat kepada atlet di Sasana Gembira,
Bandung, 9 April 1961).
Sukarno pada
eranya menempatkan Olahraga prestasi sebagai alat perjuangan, instrument untuk
proyeksi keunggulan, harkat dan martabat bangsa melalui sukses pada ajang
pertandingan internasional. Setelah melakukan upacara pengkukuhan atlet
Indonesia untuk Asian Games, Presiden Soekarno pun melakukan peninjauan langsung
ke pelatnas di Bandung. Disana Presiden Soekarno banyak medapat penjelasan dari
M.F Siregar yang saat itu menjadi penanggung jawab pelatnas.Tim Indonesia yang
dibentuk ini kemudian medapat tantangan untuk bisa mewakili Indonesia di setiap
cabang olahraga. Setiap anggota tim harus memiliki rasa kebangsaan yang tebal,
rasa perjuangan yang menyala – nyala,
bermoral tinggi, berkemauan keras untuk menang dan memiliki sifat – sifat sportif, penuh disiplin dan percaya diri. Semua atlet Indonesia
yang akan bertanding di Asian Games diberi target untuk bisa mencapai “ The Big Six Asian “.
Sebagian
besar cabang diasuh pelatih asing serta beruji tanding di luar negeri, tidak heran apabila kontingen Indonesia pada Asian
Games 1962 menorehkan hasil membanggakan, yakni menempati urutan kedua dalam
daftar perolehan medali.
Jepang,
seperti pada tiga Asian Games sebelumnya, menjadi juara umum dengan 73 emas, 55
perak, dan 24 perunggu. Indonesia berada di urutan kedua, walau memiliki
perolehan emas terpaut cukup jauh daripada Jepang, yakni 11 emas, 12 perak, dan
28 perunggu.Posisi ketiga ditempati Filipina dengan 7 emas, 6 perak, serta 25
perunggu.
Bulu tangkis
menyumbangkan lima emas untuk Indonesia. Ferry Sonneville, Tan Joe Hok, Tutang,
Unang, dan Liem Tjeng Kiang mendapat emas beregu putra. Minarni, Retno Kustiah,
Corry Kawilarang, Happy Herowaty, serta Goei Kiok Nio berjaya di beregu putri.
Tiga emas lainnya didulang dari tunggal putra (Tan Joe Hok), tunggal putri
(Minarni), dan ganda putri (Minarni/Retno Kustiah).
M Sarengat
mempersembahkan dua emas dari cabang atletik, lari 100 meter dan 110 meter
gawang putra. Mencetak waktu tempuh 10,5 detik untuk lari 100 meter putra,
Sarengat sekaligus memecahkan rekor Asian Games. Loncat indah tidak mau
ketinggalan dengan satu emas (papan 3 meter putri) berkat Lanny Gumulya.
Sistim
Pemusatan latihan nasional yang dilakukan di atas, kelak ditiru oleh banyak
negara Asia lainnya.Sementara Indonesia seiring dengan badai politik yang
menerpa kemudian menjelma menjadi bangsa instan.
Selain
tahapan persiapan kontingen seperti tersebut di atas, selama lebih kurang empat
tahun, Indonesia berjuang untuk mewujudkan berbagai infrastruktur
dan venue yang diperlukan untuk penyelenggaraan Asian Games
IV/1962. Sebagai tuan rumah, Indonesia mati-matian ingin membuktikan kepada
dunia internasional bahwa bekas negeri jajahan Belanda ini mampu menggelar
kegiatan olahraga berskala internasional.
Di depan
maket Stadion Senayan Bung Karno menunjuk-nunjukkan tongkatnya ke maket rencana
Stadion “Ini…ini akan jadi Stadion terbesar di dunia, ini adalah awal bangsa kita
menjadi bintang pedoman bangsa-bangsa di dunia, semua olahraga dari
negara-negara di dunia ini, berlomba disini. Kita tunjukkan pada dunia,
Indonesia bangsa yang besar, yang mampu maju ke muka memimpin pembebasan
bangsa-bangsa di dunia menuju dunia barunya”.
Kompleks
olahraga Senayan pun didirikan di Jakarta. dibangun mulai tanggal 8 Februari
1960 sebagai kelengkapan sarana dan prasarana menuju Asian Games.
Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta
dollar AS dan kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958.
Di dalam
kompleks, terdapat Stadion Utama Senayan nan megah yang mampu menampung 100.000
penonton. Belum lagi Stadion Renang, Stadion Tenis, dan Istana Olahraga
(Istora).
Di luar
Senayan, untuk menjamu tamu penting dari negara lain, Indonesia membangun hotel
mewah, Hotel Indonesia.Persoalan transportasi diatasi dengan membangun Jembatan
Semanggi serta jalan raya baru Tanjung Priok-Cawang, Jakarta Bypass.
Beberapa
bulan menjelang Asian Games 1962 yang digelar pada tanggal 24 Agustus-4
September, tim inspeksi dari sejumlah negara Asia menyepakati bahwa Indonesia
siap menjadi tuan rumah. Penilaian ini sangat baik, karena
Asian Games IV akhirnya memang dapat terselenggara dengan cukup baik.
d.
BELAJAR DARI NEGERI CHINA
Harus ada
terobosan untuk membangkitkan prestasi olahraga Indonesia dari tidur
panjang.Datangnya era reformasi yang membuat negeri ini makin demokratis.Hal itu di karenakan sistemyang telah di lakukan
tidak bisa menghasilkan prestasi yang maksimal.
Indikatorsejumlah
prestasi kelas dunia dan Asia yang sempat diraih pada masa lalu, sampai saat ini belum bisa di
cappai lagi.
Pada ajang Asian Games ke-16 terakhir
di Guangzhou China, Indonesia hanya mampu menempati posisi ke-13 dengan 4
medali emas, 9 perak, dan 12 perunggu.Cabang olahraga yang ditargetkan menyumbang
emas, seperti wushu, angkat besi, dan bulutangkis beregu, belum bisa di maksimalkan dengan baik. Beruntung, atlet perahu naga putra
yang nyaris tidak berangkat, mampu mempersembahkan tiga medali emas. Satu
emas tambahan datang dari bulutangkis perorangan nomor ganda putra.
Pencapaian
Indonesia kalah jauh dari Thailand yang menduduki peringkat 9 dengan 11 medali
emas dan Malaysia di nomor 10 dengan 9 emas.China di urutan teratas dengan 197
emas. Hasil itu membuktikan bahwa ada yang kurang baik dengan
pembinaan olahraga kita.Untuk itu, harus ada evaluasi total atas sistem
pembinaan olahraga kita, yang diikuti dengan penerapan strategi jitu
mendongkrak prestasi.
Syarat utama
kemajuan olahraga Indonesia saat ini adalah perhatian pemerintah yang lebih
serius.Pemerintah harus menjadi motor penggerak, agar semua komponen bangsa
terpanggil memberikan sumbangsih. Segudang masalah yang menjadi kendala,
seperti kompetisi yang kurang, tidak adanya sistem pembinaan berjenjang,
minimnya fasilitas pendukung, dualisme Kemenpora dan KONI, dan
sebagainya, harus segera dibenahi.
Masalah dana
yang paling sering disuarakan sebagai kendala utama pembinaan olahraga harus
dicarikan solusinya. Harus ada mekanisme pendanaan yang jelas bagi cabang
olahraga prioritas Selain mengandalkan dana dari APBN dan APBD,
pemerintah semestinya bisa mendorong pihak swasta untuk lebih berperan dalam
memacu prestasi olahraga di Tanah Air.
Catatan
menunjukan bahwa dari sekian banyak perusahaan nasional, tak sampai sepuluh
yang aktif mensponsori kegiatan olahraga.Itu pun umumnya perusahaan rokok.
Padahal,
pemerintah bisa “memaksa” swasta berkontribusi sebagai bagian dari program corporate social
responsibility (CSR).Keterlibatan swasta tidak saja berpotensi melahirkan
bibit-bibit atlet berprestasi, tetapi juga meningkatkan kesehatan masyarakat.
Pola seperti ini akan membuat program CSR lebih bermakna.
Pemerintah
harus mendorong agar budaya olahraga makin tumbuh dalam masyarakat.Analisis
menunjukan bahwa negara yang budaya olahraganya kuat, umumnya prestasi
olahraganya tinggi.
Kehebatan
prestasi olahraga China dibangun di atas fondasi budaya olahraga masyarakatnya
yang kuat.Di negeri ini sulit kita temukan lapangan atau
taman-taman olahraga yang kosong dari kegiatan olah fisik warganya.Indonesia juga harus bisa memetik pelajaran dari China, yang mampu
berdiri tegak di kancah olahraga internasional.China mampu menyelaraskan
kemajuan ekonominya dengan pencapaian prestasi atlet-atletnya.Tak salah
hipotesis yang menyebutkan bahwa prestasi olahraga paralel dengan pencapaian
bidang-bidang lainnya, seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Lepas dari
hipotesis tersebut, pencapaian olahraga China 10 tahun belakangan ini tidak
terjadi begitu saja. Peningkatan prestasi mereka dibangun sistematis dengan
menetapkan “10 Arah Pembangunan Olahraga
Nasional”. Melalui program ini, China antara
lain menetapkan kerangka kebijakan olahraga nasional, menyiapkan reformasi industri olahraga dan menerapkan strategi jangka
panjang dan menengah, meningkatkan partisipasi dan kesempatan
berkegiatan olahraga, serta mendukung penelitian dan
pembangunan olahraga serta mempromosikan pencapaian-pencapaian tertinggi dalam
olahraga. “Grand Design”.
e. Saudara Tua
Sepakbola Asia
Jepang yang
dulu pernah belajar sistem kompetisi Indonesia, perlahan menjadi penguasa
Asia.Indonesia kini harus belajar sepakbola dari saudara tua, “kata sutradara sekaligus penulis sepakbola Andibachtiar Yusuf”.
“Kami adalah bagian dari dunia,” ujar Daisuke Oku saat timnya berhasil lolos ke babak 16 besar Piala
Dunia di rumah mereka 11 tahun lalu. Gelandang serang tim nasional Jepang ini
patut merayakan keberhasilan timnya lolos ke babak selanjutnya, setelah 4 tahun
sebelumnya harus puas menjadi pelengkap grup. Pencapaian yang kemudian kembali
mereka ulangi di Afrika Selatan 2010 sebelum dihentikan oleh Paraguay hanya
dengan cara adu tendangan penalti.
Jepang lah
yang terbaik di Asia,” ujar Akihiro Matsumoto saat saya
bertanya secara berseloroh tentang “Siapa yang
terbaik di Asia,” di sekitar bulan Desember 2011.Saat
itu Jepang baru saja menaklukkan Australia di final Piala Asia di Qatar
sekaligus menegaskan kekuatan mereka di dunia Sepakbola Asia.Pertanyaan itupun
saya lontarkan di Museum Sepakbola di Tokyo, tempat dimana Jepang meletakkan
segala memorabilia keikutsertaan mereka di turnamen terbesar dunia ini…”The mother of all summer!” tulis The
Guardian setiap saat menjelang Piala Dunia bergulir.
Walaupun sejauh ini masih belum mampu lolos lebih jauh dari 16 tim terbaik di
turnamen, Jepang berhasil menunjukkan pada dunia “Bahwa mereka adalah bagian dari dunia,” Inilah gagasan awal berdirinya J-League, liga professional di Jepang 2
dekade lalu, keinginan untuk melengkapi hegemoni mereka di dunia. “Kami telah memberi dunia banyak hal, budaya, teknologi, peradaban,” ujar Shinji Nakayama salah seorang pemain yang mengikuti liga di
awal-awal berdirinya “Tapi kami belum memainkan Sepakbola
dengan benar,” tegasnya.Sebuah keinginan untuk
semakin mengesahkan eksistensi mereka dalam peradaban dunia modern.
Tak bisa
dipungkiri bahwa negeri Matahari Terbit adalah salah satu negeri digdaya di
dunia.Pengaruh mereka sangat luar biasa baik di sektor ekonomi riil, teknologi,
pangan, perikanan, perbankan atau bahkan jasa periklanan. Siapa yang berani menyangkal, bahwasanya produsen otomotif terbesar di dunia
adalah Toyota, produsen elektronik ternama adalah Sony atau merk-merk lainnya
yang terus menyerbu dunia dengan moda dan cara penetrasinya masing-masing.
Jepang
memiliki nyaris segalanya, sampai saya akhirnya sadar saat pertama kali
menjejakkan kaki di negeri itu 2 tahun lalu bahwa “Mereka memang tak butuh-butuh amat bahasa Inggris,” bahasa yang disebut sebagai gerbang pergaulan dunia seperti dinisbikan
oleh bangsa di Timur Asia ini dengan kemampuan mendominasi dunia dengan cara
mereka yang serupa dengan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa maju di dunia.
Setelah menyerbu secara teknologi dan
ekonomi, mereka masih menyadari
bahwa segala yang mereka miliki itu masih minus satu hal penting yaitu Sepakbola.Inilah satu-satunya produk budaya dunia yang belum mereka
kuasai dengan baik.Padahal Sepakbola adalah sebuah produk budaya yang dengan sederhana
dan cepat mampu menyatukan seluruh dunia dengan sesaat.
“Sepakbola adalah budaya global
modern yang akan terus berkembang,” ujar
Eduardo Galeano seorang sastrawan asal Uruguay. Bagi Eduardo, Sepakbola adalah
sebuah produk seni yang bernilai sama dengan karya seni lainnya “Orang menyebut Sepakbola sebagai sebuah permainan yang indah, bagi saya
ia lebih dari itu karena Sepakbola telah menghasilkan banyak seniman. Bagi saya
Sepakbola adalah sebuah hasil kebudayaan bangsa-bangsa dunia yang semakin modern,” jelas Eduardo lagi
Inilah alasan mengapa Jepang begitu berambisi untuk menjadikan
Sepakbola mereka berada dalam lingkup dunia.Dengan menguasai permainan ini
dunia seolah sudah di tangan bangsa yang pernah menyebut dirinya Saudara Tua di
Asia ini.“Karena kami sudah memiliki hampir
semuanya dan satu langkah lagi maka Sepakbola kami sudah menguasai dunia,” tegas Naohiko Iyazaki seorang penggemar klub Kawasaki Frontale yang
saya temui sekitar setahun lalu di sebuah pertandingan liga.
Kita
mengenal bangsa yang pernah menginvasi Tanah Air ini sebagai bangsa yang tidak hanya disiplin tapi juga beretos kerja sangat tinggi.Tidak heran jika mereka melakukan riset luar biasa
terhadap keberadaan Sepakbola.Penjuru dunia mereka telusuri untuk menemukan
model yang tepat bagi bentuk kompetisi yang tepat untuk mereka.Indonesia yang
praktis bukan negara Sepakbola pun mereka sambangi untuk melihat kompetisi semi
profesional kita di pertengahan era 1980an dulu.
BAB III
A.
KESIMPULAN
Sesungguhnya
negeri ini mampu bicara banyak di kanca Asia,
bahkan Dunia, karena
kondisi tersebut di atas, pernah digelar dalam bentuk dan kondisi sesuai dengan
jamannya, sebelum berantakan digerus oleh gelombang politik. Dibutuhkan kemauan
dari semua elemen peningkatan prestasi, untuk kembali menempatkan olahraga
sebagai alat perjuangan, instrument proyeksi keunggulan, harkat dan martabat
bangsa. Satu – satunya cara untuk itu adalah
proses pembinaan harus kembali pada paradigma yang berorientasi pada proses.Tanpa
hal tersebut negeri ini hanya akan tertipu oleh fatamorgana prestasi.
B.
PENUTUP
Demikian makalah
yang saya buat, saya mohon maaf apabila ada kesalahan ejaan dan kalimat yang
kurang jelas.
Saya menyadari
bahwasanya karya tulis yang saya buat masih banyak sekali kekurangan, karena
kesempurnaan hanya milik ALLAH S.W.T semata.
Sekian penutup
dari saya semoga dapat di terima dan saya ucapkan terimakasih.
C.
DAFTAR
PUSTAKA
Khusus Untuk daftar pustaka silahkan isi dengan alamat blog ini saja, trimakasih sudah berkunjung.

